KOMPAS, 26 OKTOBER 2014
Menyelamatkan Ekosistem Selat Bali
Ikhwan
Arief yang berumur 30 tahun mengembangkan gerakan swadaya menyelamatkan terumbu
karang Selat Bali di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, Jawa
Timur. Karena ketekunan dan kemahirannya dalam berkomunikasi, dia mampu
mengajak para nelayanuntuk menjadi pelestari lingkungan yang awalnya pengebom
ikan.
Ikhwan membutuhkan sekitar 6 tahun ,berhasil mengajak sekitar 200 nelayan untuk
menjadi pelestari lingkungan. Ikhwan awalnya memulai dengan mengajak
beberapa nelayan yang memiliki interaksi relative dekat dengannya.
Para nelayan mengeluh bahwa pada saat
ini ikan sangat sulit didapat,sehingga mereka harus berlayar dengan jauh,
padahal sebelumnya ikan mudah didapatkan di tepi pantai.
Sehingga pada saat itu seusai menimba ilmu di
Universitas, Islam malang, Jawa timur. Ikhwan mendapati bahwa ekosistem di
Pantai Bangsring rusak. Saat menyelam ia menemukan 80% terumbu karang di pantai
itu sudah hancur karena bom ikan. Sehingga,
Ikhwan pun kemudian berinisiatif untuk memulai gerakan mengembalikan ekosistem
Selat Bali di Desa Bangsring.
Salah satu kendala ikhwan mengajak para
nelayan untuk pelestarian lingkungan yaitu para nelayan susah untuk dikumpul
karena mereka sibuk dalam mencari nafkah, apalagi berkumpul untuk berhenti
untuk tidak menggunakan bom ikan. Beberapa para nelayan banyak menolak ajakan
tersebut. Namun, ada 5 nelayan
yang mau mencoba menangkap dengan cara aman.
5
nelayan tersebut awalnya kecewa karenahasil tangkapan mereka berkurang. Akan tetapi
Ikhwan terus menyemangati mereka. Sampai akhirnya mereka mahir menangkap ikan
tanpa memakai bom.
Ketika
gerekan tersebut berkembang. Ikhwan membentuk komunitas nelayan bernama
Samudera Bhakti. Komunitas nelayan itu bergerak lebih jauh dengan menanam
terumbu karang secara swadaya tanpa membutuhkan uang yang banyak.
Modal
untuk membuat terumbu karang buatan yang digunakan sebagai apartemen ikan
nantinya diperoleh dari hasil sumbangan nelayan. Hingga akhirnya sudah ratusan
terumbu karang buatan yang mereka buat. Sebagian sudah mulai tumbuh dan menjadi
rumah ikan.
Untuk
menjaga agar ikan selalu bertumbuh dan beranak pinak, nelayan Samudera Bhakti
juga membuat zona konservasi seluas sekitar 5 hektar di Selat Bali. Setelah
enam tahun berlalu, nelayan mulai merasakan hasilnya. Tangkapan ikan melimpah
walau nelayan tak menggunakan potas ataupun bom ikan.
pelestarian
lingkungan kian tersebar luas dikarenakan para siswa juga diajak untuk menjaga
pelestarian alam dan membuat terumbu karang buatan.
Ikhwan
ingin menebus kesalahan para pendahulu. Oleh karena itu, Ikhwan rela meluangkan
waktu untuk memperbaiki lingkungan laut yang awalnya menggunakan cara menangkap
ikan dengan bom.
Ikhwan
turut merasa lega melihat para nelayan hidup lebih baik dengan mendapatkan
hasil tangkapan yang melimpah tanpa merusak lingkungan. Ikhwan
juga memiliki satu impian yang ingin ia wujudkan yaitu membuat dana beasiswa
abadi bagi anak-anak nelayan. Caranya, menanami jalur di tepi jalan desa dengan
pohon yang bernilai ekonomi.
Komentar
saya dalam hal ini adalah saya sangat apresiasi yang dilakukan ikhwan memperbaiki
laut yang ada di Pantai Bangsring yang awalnya rusak karena sikap para nelayang
menangkap ikan dengan cara bom ikan.
Ikhwan rela meluangkan waktunya hanya untuk
melestarikan alam tanpa mengharapkan suatu imbalan berupa material. Ikhwan
tidak pernah putus asa dalam melakukan sesuatu seperti halnya mengajak para nelayan agar berhenti menangkap
ikan dengan cara bom. Semua itu membutuhkan proses yang tidak mudah namun Ikhwan
tetap semangat dalam mencapai harapannya.. Para nelayan seharusnya mempunyai
kesadaran bahwa dengan cara menangkap ikan dengan pembom ikan dapat merusak
terumbu karang yang ada di laut. Sebaiknya sosok seperti khwan ini dapat
memberikan contoh bagi kita untuk mengetahui pentingnya menjaga pelestarian
alam. Kerja keras, semangat dan keikhlasan ikhwan yang perlu di terapkan bagi
masyarakat saat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar