Jumat, 31 Oktober 2014

SOSOK 4





KOMPAS, 26 OKTOBER 2014

Menyelamatkan Ekosistem Selat Bali

Ikhwan Arief yang berumur 30 tahun mengembangkan gerakan swadaya menyelamatkan terumbu karang Selat Bali di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, Jawa Timur. Karena ketekunan dan kemahirannya dalam berkomunikasi, dia mampu mengajak para nelayanuntuk menjadi pelestari lingkungan yang awalnya pengebom ikan. 


    Ikhwan membutuhkan sekitar 6 tahun ,berhasil mengajak sekitar 200 nelayan untuk menjadi pelestari lingkungan. Ikhwan awalnya memulai dengan mengajak beberapa nelayan yang memiliki interaksi relative dekat dengannya. 

    Para nelayan mengeluh bahwa pada saat ini ikan sangat sulit didapat,sehingga mereka harus berlayar dengan jauh, padahal sebelumnya ikan mudah didapatkan  di tepi pantai.
Sehingga pada saat itu seusai menimba ilmu di Universitas, Islam malang, Jawa timur. Ikhwan mendapati bahwa ekosistem di Pantai Bangsring rusak. Saat menyelam ia menemukan 80% terumbu karang di pantai itu sudah hancur karena bom ikan. Sehingga, Ikhwan pun kemudian berinisiatif untuk memulai gerakan mengembalikan ekosistem Selat Bali di Desa Bangsring.

Salah satu kendala ikhwan mengajak para nelayan untuk pelestarian lingkungan yaitu para nelayan susah untuk dikumpul karena mereka sibuk dalam mencari nafkah, apalagi berkumpul untuk berhenti untuk tidak menggunakan bom ikan. Beberapa para nelayan banyak menolak ajakan tersebut. Namun, ada 5 nelayan yang mau mencoba menangkap dengan cara aman.
5 nelayan tersebut awalnya kecewa karenahasil tangkapan mereka berkurang. Akan tetapi Ikhwan terus menyemangati mereka. Sampai akhirnya mereka mahir menangkap ikan tanpa memakai bom.
Ketika gerekan tersebut berkembang. Ikhwan membentuk komunitas nelayan bernama Samudera Bhakti. Komunitas nelayan itu bergerak lebih jauh dengan menanam terumbu karang secara swadaya tanpa membutuhkan uang yang banyak.

     Modal untuk membuat terumbu karang buatan yang digunakan sebagai apartemen ikan nantinya diperoleh dari hasil sumbangan nelayan. Hingga akhirnya sudah ratusan terumbu karang buatan yang mereka buat. Sebagian sudah mulai tumbuh dan menjadi rumah ikan.

     Untuk menjaga agar ikan selalu bertumbuh dan beranak pinak, nelayan Samudera Bhakti juga membuat zona konservasi seluas sekitar 5 hektar di Selat Bali. Setelah enam tahun berlalu, nelayan mulai merasakan hasilnya. Tangkapan ikan melimpah walau nelayan tak menggunakan potas ataupun bom ikan.
pelestarian lingkungan kian tersebar luas dikarenakan para siswa juga diajak untuk menjaga pelestarian alam dan membuat terumbu karang buatan.

     Ikhwan ingin menebus kesalahan para pendahulu. Oleh karena itu, Ikhwan rela meluangkan waktu untuk memperbaiki lingkungan laut yang awalnya menggunakan cara menangkap ikan dengan bom.
Ikhwan turut merasa lega melihat para nelayan hidup lebih baik dengan mendapatkan hasil tangkapan yang melimpah tanpa merusak lingkungan. Ikhwan juga memiliki satu impian yang ingin ia wujudkan yaitu membuat dana beasiswa abadi bagi anak-anak nelayan. Caranya, menanami jalur di tepi jalan desa dengan pohon yang bernilai ekonomi.

     Komentar saya dalam hal ini adalah saya sangat apresiasi yang dilakukan ikhwan memperbaiki laut yang ada di Pantai Bangsring yang awalnya rusak karena sikap para nelayang menangkap ikan dengan cara bom ikan. Ikhwan rela meluangkan waktunya hanya untuk  melestarikan alam tanpa mengharapkan suatu imbalan berupa material. Ikhwan tidak pernah putus asa dalam melakukan sesuatu seperti halnya  mengajak para nelayan agar berhenti menangkap ikan dengan cara bom. Semua itu membutuhkan proses yang tidak mudah namun Ikhwan tetap semangat dalam mencapai harapannya.. Para nelayan seharusnya mempunyai kesadaran bahwa dengan cara menangkap ikan dengan pembom ikan dapat merusak terumbu karang yang ada di laut. Sebaiknya sosok seperti khwan ini dapat memberikan contoh bagi kita untuk mengetahui pentingnya menjaga pelestarian alam. Kerja keras, semangat dan keikhlasan ikhwan yang perlu di terapkan bagi masyarakat saat ini.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar