Senin, 27 Oktober 2014

sosok 2

Kompas, Senin 20 oktober 2014
MEMBAGI ILMU SECARA CUMA-CUMA

Dimas Iqbal adalah seseorang yang memiliki keinginan membagikan ilmu kepada masyarakat luas secara cuma-Cuma. Baginya, pendidikan tidak bisa dikapitalisasi. Keinginan tersebut berawal pada pengalaman yang disuruh pulang dikarenakan belum membayar uang kursus waktu SMA. Beberapa tahun kemudian bersama sang istri yaitu Tunggul Puji keinginan membagikan ilmu secara Cuma-cuma itu terwujud, kini lebih dari 100 anak telah mengenal bahasa asing melalui Sekolah Alam Ngelmu Pring yan ia rintis. Tempat tersebut  dinamakan dengan Pedepokan Ngelmu Pring dengan luas tanah 300 meter persegi yang berada tepat di bibir tebing anak sungai Brantas di Jalan Patimura III, Batu, Jawa Timur.
           Kondisi kelasnya lesehan dan sederhana. Pedepokan Ngelmu Pring tidak hanya dipakai untuk belajar melainkan tempat itu digunakan untuk mendukung kegiatan warga, salah satunya tempat menjadi pungutan suara. Pedepokan yang berada 200 meter dari jalan raya tersebut berdiri pada januari 2013, sebelumnya, kegiatan belajar tersebut dilakukan dengan meminjam gedung SD Temas, di gedung tersebutlah Dimas dan Puji dibantu oleh sejumlah rekan satu almamater dimulai dengan memperkenalkan bahasa asing yang dinamai kampong Inggris,Perancis, dan Jepang.
                Ketiga Bahasa itu dipilih karena pada saat itu pengajarnya menguasai 3 bahasa tersebut. Setelah pedepokan itu berdiri, dimas mengajukan proposal ke almamater agar para dosen dapat berpartisipasi namun upaya itu gagal. Dimas pun mengajak para mahasiswa ikut serta dan berhasil sampai sekarang.
                Nama Ngelmu Pring disematkan karena tempat belajar ada di bawah Rumpun bamboo. Pring adalah bahasa jawa dari bambu. Filosofisnya bahwa bambu merupakan tanaman yang paling dekat sama manusia. Sejak lahir, hidup dan mati selalu menggunakan bamboo. Hingga kini sekitar 40 pengajar yang terlibat di Ngelmu Pring. Ada dosen, mahasiswa, dan swasta.  
                Dalam perkembangannya, Ngelmu Pring memang tidak hanya memperkenalkan bahasa asing namun Ngelmu Pring juga mengajarkan berwiraswasta. Para siswa diajarkan bagaimana memanfaatkan potensi local yang ada sehingga bisa dikembangkan untuk mendukung tarif hidup. “Focus pendidikannya memang meningkatkan kualitas taraf hidup masyarakat. Siswa dikenalkan kewirausahaan. Batu dikenal sebagai kota wisata, jadi kita siapkan mereka menjadi pelaku wisata” ujar Dimas.
                Salah satu kendala memperkenalkan Bahasa Asing kepada anak- anak yaitu meyakinkan kepada para orang tua. Hal ini terjadi karena metode yang digunakan pada Ngelmu Pring berbeda dengan metode yang digunakan oleh sekolah formal. 

          Kedepannya  Dimas mempunyai keinginan untuk membuat sebuah akademi bahasa yang dapat diakses masyarakat secara Cuma-Cuma. Dan jika hal ini terwujud akan menjadi akademi pertama di Indonesia yang menerapkan cara seperti itu. “ November, Dimas ke Filiphina, dia diundang ke konferensi dan berbicara di salah satu radio, sehingga ia berharap dapat merangkul banyak orang sebagai donasi untuk mewujudkan akademi. Dia berharap para mantan pengajar yang telah keluar dan pindah ke tempat lain bisa membuat tempat belajar gratis semacam Ngelmu Pring.

KOMENTAR :
Menurut saya, sikap Dimas Iqbal adalah suatu hal yang sangat positif dan bermanfaat bagi masyarakat, Sebaiknya masyarakat dapat mengikuti niat baik Dimas Iqbal dan Tunggul Puji membuat sebuah sekolah gratis tanpa meminta imbalannya. Mereka rela kehilangan waktu, tenaga, dan biaya hanya untuk membagikan ilmu kepada masyarakat secara gratis. Sikap peduli dan rela menolong dengan ikhlas beliau yang harus kita contoh. Beliau tidak pernah putus asa dalam merintis Pedepokan Ngelmu Pring ini. Ilmu yang dia dapat, dia bagikan  secara cuma- cuma. Hal itu merupakan sikap yang jarang ditemui pada saat ini. Di zaman sekarang ini banyak orang yang memberikan ilmu dengan mengadakan tempat kursus namun dengan imbalan seperti membayar uang kursus. Sehingga banyak yang tidak dapat mengikuti kursus tersebut disebakan masalah ekonomi tersebut.
Saya sangat bangga dengan usaha Dimas Iqbal yang membagikan ilmu secara Cuma-cuma, ia dapat membantu banyak orang dan memberikan banyak manfaat kepada masyarakat. Banyak hal yang positif yang dapat kita ambil dalam kegiatan yang dilakukan oleh Dimas Iqbal dan istrinya.  Saya berharap masyarakat dapat mengikuti sikap Dimas Iqbal yang baik ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar