Definisi dari Berpikir Kritis, Logika, dan Kekeliruan (Definition of Critical Thinking, Logic, and Fallacies)
CRITICAL THINKING (BERFIKIR KRITIS)
Berfikir kritis adalah kemampuan seseorang dalam memahami kosep dengan memecahkan suatu masalah dengan membuktikan dan mengevaluasi informasi yang diperoleh.
Berfikir kritis menurut beberapa para ahli
- "Proses untuk menentukan keasliaan, akurasi, dan nilai dari suatu informasi atau pengetahuan" ( Beyer, 1986)
- Menurut Paul dan Elder yaitu berfikir kritis merupakan cara bagi seseorang untuk meningkatkan kuallitas dari hasil pemikiran menggunakan teknik sistemasi cara berfikir dan menghasilkan daya pikir intelektual dalam ide- ide yang digagas
- kemampuan untuk menganalisis fakta, mencetuskan dan menata gagasan, mempertahankan pendapat, membuat perbandingan, menarik kesimpulan, mengevaluasi argumen dan memecahkan masalah. ( chance, 1986)
Berfikir Kritis adalah proses intelektual yang dengan aktif dan terampil mengkonseptualisasi, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi informasi yang dikumpulkan atau dihasilkan dari pengamatan, pengalaman, refleksi, penalaran, atau komunikasi, untuk memandu keyakinan dan tindakan.
Berfikir kritis juga dapat diartikan sebagai proses pertimbangan yang penuh tujuan, dikontrol oleh diri sendiri, yang didasarkan pada bukti, konteks, konseptualisasi, metoda dan kriteria.
Manfaat berfikir kritis bagi mahasiswa
1. Membantu memperoleh pengetahuan, memperbaiki teori, memperkuat argumen
2. mengemukakan dan merumuskan pertanyaan dengan jelas
3. mengumpulkan, menilai, dan menafsirkan informasi dengan efektif
4. membuat kesimpulan dan menemukan solusi masalah berdasarkan alasan yang kuat
5. membiasakan berpikiran terbuka
6. mengkomunikasikan gagasa, pendapat, dan solusi dengan jelas kepada lainnya
Seseorang yang berfikir secara kritis akan dapat menjawab permasalahan- permasalahanyang penting dengan baik. dia akan berfikir secara jelas dan tepat. selain itu, dapat menggunakan ide yang abstrak untuk bisa membuat model penyelesaian masalah secara efektif
Beberapa kriteria yang dapat kita jadikan standar dalam proses berfikir kritis ini adalah kejelasan, tingkat akurasi, tingkat keprisisian relevansi, logika berfikir yang digunakan, keluasan sudut pandang, kedalaman berfikir, kejujuran, kelengkapan informasi, dan bagaimana implikasi dari solusi yang kita kemukakan.
pentingnya berpikir kritis karena dapat menjadikan keterampilan universal, sangat penting di abad 21, meningkatkan keterampilan verbal dan analitik, meningkatkan kreativitas, penting untuk refleksi diri.
LOGIKA (LOGIC)
Logika berasal dari kata Yunani kuno (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal
pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Logika adalah
salah satu cabang filsafat.
ilmu logika disebut dengan logike
episte!e (Latin& logica scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang
mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur. ilmu
disini mengacu pada kesanggupan rasional untuk mengetahui dan kecakapan mengacu
pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam tindakan. kata
logis yang dipergunakan tersebut bisa juga diartikan dengan masuk akal.
Istilah logika pertama kali digunakan oleh Zeno dari Citium (334-262 SM) sang pendiri stoisisme. Logika berasal dari kata Logikos yang berasal dari kata benda Logos.
Secara etimologis, logika dapat diartikan sebagai suatu pertimbangan
akal atau pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam
bahasa.
Dasar penerapan dalam logika ada dua :
Logika deduktif
adalah penalaran yang membangun atau mengevaluasi argumen deduktif. Argumen dinyatakan deduktif jika
kebenaran dari kesimpulan ditarik atau merupakan
konsekuensi logis dari premis-premisnya. Argumen deduktif dinyatakan valid atau tidak valid, bukan benar atau salah. sebuah
argumen deduktif dinyatakan valid jika dan hanya jika kesimpulannya merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya.
Logika induk logika induktif adalah penalaran yang berangkat dari serangkaian fakta-fakta khusus untuk menvapai kesimpulan umum.
Manfaat Logika
Secara singkat manfaat logika dapat
dikategorikan sebagai berikut:
- Logika menyatakan, menjelaskan, dan mempergunakan prinsip-prinsip abstrak yang dapat dipakai dalam semua lapangan ilmu pengetahuan (bahkan seluruh lapangan kehidupan).
- Logika menambah daya berpikir abstrak dan dengan demikian melatih dan mengembangkan daya pemikiran dan menimbulkan disiplin intelektual.
- Logika mencegah kita tersesat oleh segala sesuatu kita peroleh berdasarkan autoritas, emosi, dan prasangka.
- Logika – di masa yang sekarang dikenal sebagai “era of reason’”– membantu kita untuk mampu berpikir sendiri dan tahu memberakan yang benar dari yang palsu.
- Logika membantu orang untuk dapat berpikir lurus, tepat dan teratur karena dengan berpikir demikian ia dapat memperoleh kebenaran dan menghindari kesehatan.
FALLACIES (KEKELIRUAN)
Dalam logika dikenal dengan istilah Fallacies yaitu kesalahan argumentasi seseorang karena kerancuan menggunakan bahasa atau bisa juga dikatakan kekeliruan berfikir.
Argumen jika premisnya tidak mendukung kesimpulan adalah salah satu hal yang dapat menyebabkan penalaran buruk, serta argumen dikatakan ‘keliru’. Sebuah ‘kesalahan’ yang tidak benar dalam penalaran. Oleh karena itu dapat kita simpulkan definisi fallacy sebagai jenis argumen yang mungkin tampak benar, namun pada kenyataannya tidak seperti itu.
Mundiri (Logika,1994) membagi jenis-jenis kekeliruan itu ke dalam 3 kelompok :
1. kekeliruan formal
2. kekeliruan informal
3. kekeliruan karena pengguna bahasa
Kekeliruan formal yang berhubungan dengan bentuk dari premis-premis dalam silogisme, kekeliruan informal yang berhubungan dengan aspek materi dari suatu kesimpulan logis, dan kekeliruan penggunaan bahasa yang berhubungan dengan pelak-pelik ungkapan dan tata bahasa yang kemudian menyebabkan kesalahan penafsiran.
A. Kekeliruan Formal
1. Fallacy of Four Terms (Kekeliruan Karena Menggunakan Empat Term)
2. fallacy of Unditributed Middle (Kekeliruan Karena Kedua Term Penengah Tidak Mencakup)
3. Fallacy of Illicit Process (Kekeliruan Karena Proses Tidak Benar)
4. Fallacy of Two Negative Premises (Kekeliruan Karena Menyimpulkan daru Dua Premis yang Negatif)
5. Fallacy of Affirming the Consequent (Kekeliruan Karena Mengakui Akibat)
6. Fallacy of Denying Antecedent (Kekeliruan Karena Menolak Sebab)
7. Fallacy of Disjunction (Kekeliruan dalam Bentuk Disyungtif)
8. Fallacy of Inconsistency (Kekeliruan Karena tidak Konsisten)
B. Kekeliruan informal
1. Fallacy of Hasty Generalization (Kekeliruan Karena Membuat Generalisasi yang Terburu-buru)
2. Fallacy of Forced Hypothesis (Kekeliruan Karena Memaksakan Praduga)
3. Fallacy of Begging the Question (Kekeliruan Kerna Mengundang Permasalahan)
4. Fallacy of Circular Argument (Kekeliruan Karena Menggunakan Argumen yang Berputar
5. Fallacy of Argumentative Leap (Kekeliruan Karena Berganti Dasar)
6. Fallacy of Appealing to Authority (Kekeliruan Karena Mendasarakan pada Otoritas)
7. Fallacy of Appealing to Force (Kekeliruan Karena Mendasarkan Diri pada Kekuasaan)
8. Fallacy of Abusing (Kekeliruan Karena Menyerang Pribadi)
9. Fallacy of Ignorance (Kekeliruan Karena Kurang Tahu)
10. Fallacy of Complex Question (Kekeliruan Karena Pertanyaan yang Ruwet)
11. Fallacy of Oversimplification (Kekeliruan Karena Alasan Terlalu Sederhana)
12. Fallacy of Accident (Kekeliruan Karena Menetapkan Sifat)
13. Fallacy if Irrelevent Argument (Kekeliruan Karena Argumen yang TIdak Relevan)
14. Fallacy of False Analogy (Kekeliruan Karena Salah Mengambil Analogi)
15. Fallacy of Appealing to Pity (Kekeliruan Karena Mengundang Belas Kasihan)
Kekeliruan Karena Penggunaan Bahasa
1. Fallacy of Compotition (Kekeliruan Karena Komposisi)
2. Fallacy of Division (Kekeliruan dalam Pembagian
3. Fallacy of Accent (Kekeliruan Karena Tekanan)
4. Fallacy of Amphiboly (Kekeliruan Karena Amfiboli)
5. Fallacy of Equivocation (Kekeliruan Karena Menggunakan Kata dalam )
Informasi yang saya jabarkan diatas merupakan referensi yang saya ambil dari beberapa sumber dibawah ini:
1. kekeliruan formal
2. kekeliruan informal
3. kekeliruan karena pengguna bahasa
Kekeliruan formal yang berhubungan dengan bentuk dari premis-premis dalam silogisme, kekeliruan informal yang berhubungan dengan aspek materi dari suatu kesimpulan logis, dan kekeliruan penggunaan bahasa yang berhubungan dengan pelak-pelik ungkapan dan tata bahasa yang kemudian menyebabkan kesalahan penafsiran.
A. Kekeliruan Formal
1. Fallacy of Four Terms (Kekeliruan Karena Menggunakan Empat Term)
2. fallacy of Unditributed Middle (Kekeliruan Karena Kedua Term Penengah Tidak Mencakup)
3. Fallacy of Illicit Process (Kekeliruan Karena Proses Tidak Benar)
4. Fallacy of Two Negative Premises (Kekeliruan Karena Menyimpulkan daru Dua Premis yang Negatif)
5. Fallacy of Affirming the Consequent (Kekeliruan Karena Mengakui Akibat)
6. Fallacy of Denying Antecedent (Kekeliruan Karena Menolak Sebab)
7. Fallacy of Disjunction (Kekeliruan dalam Bentuk Disyungtif)
8. Fallacy of Inconsistency (Kekeliruan Karena tidak Konsisten)
B. Kekeliruan informal
1. Fallacy of Hasty Generalization (Kekeliruan Karena Membuat Generalisasi yang Terburu-buru)
2. Fallacy of Forced Hypothesis (Kekeliruan Karena Memaksakan Praduga)
3. Fallacy of Begging the Question (Kekeliruan Kerna Mengundang Permasalahan)
4. Fallacy of Circular Argument (Kekeliruan Karena Menggunakan Argumen yang Berputar
5. Fallacy of Argumentative Leap (Kekeliruan Karena Berganti Dasar)
6. Fallacy of Appealing to Authority (Kekeliruan Karena Mendasarakan pada Otoritas)
7. Fallacy of Appealing to Force (Kekeliruan Karena Mendasarkan Diri pada Kekuasaan)
8. Fallacy of Abusing (Kekeliruan Karena Menyerang Pribadi)
9. Fallacy of Ignorance (Kekeliruan Karena Kurang Tahu)
10. Fallacy of Complex Question (Kekeliruan Karena Pertanyaan yang Ruwet)
11. Fallacy of Oversimplification (Kekeliruan Karena Alasan Terlalu Sederhana)
12. Fallacy of Accident (Kekeliruan Karena Menetapkan Sifat)
13. Fallacy if Irrelevent Argument (Kekeliruan Karena Argumen yang TIdak Relevan)
14. Fallacy of False Analogy (Kekeliruan Karena Salah Mengambil Analogi)
15. Fallacy of Appealing to Pity (Kekeliruan Karena Mengundang Belas Kasihan)
Kekeliruan Karena Penggunaan Bahasa
1. Fallacy of Compotition (Kekeliruan Karena Komposisi)
2. Fallacy of Division (Kekeliruan dalam Pembagian
3. Fallacy of Accent (Kekeliruan Karena Tekanan)
4. Fallacy of Amphiboly (Kekeliruan Karena Amfiboli)
5. Fallacy of Equivocation (Kekeliruan Karena Menggunakan Kata dalam )
Informasi yang saya jabarkan diatas merupakan referensi yang saya ambil dari beberapa sumber dibawah ini:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar