Jumat, 07 November 2014

SOSOK 5



KOMPAS, 7 NOVEMBER 2014
KEPALA SEKOLAH YANG GEMAR “NONGKRONG”
   Endang Setyowati, Kepala SMAK 1 BPK Penabur, Jakarta Barat memiliki salah satu program yaitu program meningkatkan kinerja guru dengan cara memberikan pendampingan dengan membaur bersama rekan guru serta murid. Gagasan yang diimplementasikan itu berhasil menjadi juara pertama Lomba Kepala Sekolah SMA Berprestasi Nasional pada Agustus 2014.

    Ibu Endang mempuyai kesenangan turun ke bawah di lingkungan sekolah yang dia kepalai membuat beliau jarang berada di ruang kepala sekolah. Beliau lebih sering nongkrong di selasar bersama para murid.
Karena kesediaan Endang mendengarkan gagasan-gagasan para rekan guru yaitu berupa ide-ide segar tentang metode dan topik mengajar, sehingga metode pengajaran yang diterapkan di SMAK 1 BPK Penabur pun mulai berubah. Guru menjadi lebih kreatif dan komunikatif bersama para murid. Perubahan ini menciptakan suasana belajar yang aktif.

   Prinsip yang dipegang Endang adalah guru profesional tidak boleh langsung pulang begitu jam kerja berakhir. Beliau selalu memantau aktivitas ekstrakurikuler dan cerita-cerita dengan para murid secara informal dan rileks. Awalnya Ibu Endang tidak mempunyai rencana menjadi guru. Setelah SMA, dia diterima untuk kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya. Akan tetapi, keadaan keuangan keluarga yang pas-pasan membuat dia tidak bisa mengejar impiannya menjadi dokter.

   Namun beliau sadar bahwa masih banyak oranga yang lebih buruk keadaan ekonominya daripada dirinya. Ia jugamenyadari bahwa menjadi seorang pengajar merupakan pekerjaan yang mulia. Endang mulai menerima dan memperjuangkan jalan hidupnya sebagai guru, bukan dokter seperti cita-cita awalnya.
  Jalan yang ditempuh Endang adalah menjadikan SMAK 7 sekolah yang fokus pada pembelajaran teknik informatika, sebuah hal yang jarang pada masa itu. 
  Setelah mengembangkan SMAK 7, Endang dipercaya memimpin SMAK Penabur Gading Serpong di Tangerang. Di bawah kepemimpinan Endang-lah program Brilliant Class dibuka bekerja sama dengan fisikawan yang mengantarkan banyak anak Indonesia menjuarai kompetisi tingkat dunia, yaitu Yohanes Surya.
  Dalam pencarian bibit unggul, Endang mendatangi sejumlah SMP di Indonesia. Semacam upaya menjemput bola, tidak hanya menunggu. Karena usahanya itu, pada tahun ajaran 2008/2009, angkatan pertama Brilliant Class pun terwujud. Upaya menemukan anak-anak cerdas ini menyadarkan Endang tentang keseimbangan. Kecerdasan yang diperoleh menurutnya tidak cukup. Pendampingan untuk pengembangan karakter dilakukan lebih intensif. Kecerdasan tanpa karakter telah terbukti tidak mempunyai manfaat. Ini yang menjadi kesadaran Endang saat mendampingi murid-muridnya dan selalu nongkrong bersama.

Komentar saya dalam hal ini yaitu Metode pembelajaran yang di lakukan Ibu Endang dalam adalah metode yang baik di contoh oleh para pengajar baik di sekolah maupun di Universitas. Keakraban guru dengan muridnya lebih memungkinkan murid tersebut lebih terbuka dalam hal diskusi dalam pembelajaran. Nasihat yang diberikan guru kepada muridnya secara santai dan rileks membuat murid lebih baik dibandingkan menasihati murid secara formal. 

Mensyukuri apa yang telah di berikan adalah hal yang terbaik. Karena apa yang diberikan biasanya lebih baik dari apa yang diinginkan. Seperti contoh Ibu Endang yang awalnya tidak berkeinginan menjadi guru melainkan beliau ingin menjadi seorang dokter. Namun, sikap ikhlas menerima apa yang diberikan, membuat Ibu Endang sekarang menjadi lebih sukses.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar